My family in Senior High School. They are best people i’ve ever met :’)
“Aku kata “astaghfirullah” tapi hati masih gemar akan maksiat. Aku kata “wa atubu ilaih” tapi jasad masih melakukan dosa sama. Aku kata “wa nadimna ya Allah” tapi kesilapan lalu masih kuulangi. Aku kata “subhanallah” tapi aku tidak mampu menghayatinya. Aku kata “alhamdulillah” tapi aku masih tidak bersyukur dengan kurniaanNya. Aku kata “Allahuakbar” tapi cintaku lebih kepada dunia. Aku kata “ma fi qalbi ghairullah” tapi masih ada ruang di hatiku untuk insan yang tidak halal. Aku kata “aku tak layak ke syurga, tapi aku tak sanggup ke nerakaMu” namun aku hidup di dunia seakan-akan aku kuat untuk rasa pedih api neraka. Aku kata aku ingin mendekatiMu, Namun amalku tak seiring dengan kata-kataku. Aku malu dengan sepasang mata kurniaanMu ini, Kerana air mata yang mengalir seakan-akan sia-sia. Aku malu dengan tangan yang sudah lelah mengelap air mata, Kerana tingkah laku pemiliknya ini tidak menggambarkan aku kesal. Bahkan aku malu dengan sang burung yang berkicau, Kerana aku insan yang dinodai dosa.. Sedang sang burung tidak disentuh walau sekelumit dosa.”—
T.T
“bantuin ROHIS ya nak….” *bu idan
“semoga Allah mudahkan jalanmu dengan niat baik yang sudah kamu miliki” *bu erah
masya Allah… T_T mau bu. insya Allah :)
i just feeling like, “hmm who’s the next ‘bu-erah’ next year? i think all my friend should take the college in jakarta/around jakarta… but.. humm ya, semoga Allah ridhai..”
14 udah kasih banyak banget. aku mau hal yang kudapat terus terusan didapat adik adik juga… bismillaahirrahmaanirrahiim..
bukan soal kuliah atau enggak. ini soal komitmen diri yang terus terusan ingin memperjuangkan mimpi. kalau hanya cari kuliah, gampang han.
ini yang sudah sejak tahun lalu kamu tuliskan di kertas. tuh, pulpennya udah geregetan mau coret list ini dari kertasmu han..
2minggu-an lagi, huahuahauuu semangat han semangat semangat semangaaaattt!!!
saya gak tahu bagaimana keadaan teman teman sebenar-benarnya ketika pengumuman kemarin. yang pasti sakit, karna bagaimanapun teman teman ini manusia. tatkala kawan-kawan sudah beberapa diterima di PTN lalu merasa bahagia sekali sepertinya dengan ekspresi-ekspresi yang diungkapkan, bagaimana keadaan hati teman-teman saya ini ya?
coba yuk ditengok-tengok lagi kawan kawan yang butuh kita sebagai temannya. di segala kepadatan kegiatan kita, yuk coba tetap sediakan waktu untuk menengok kanan kiri, ada tidak ya saudara kita yang perlu kita kuatkan lagi semangatnya?
jangan abaikan hak-hak saudara kita :)
sempurnakan ikhtiarmu, berdoalah, mendekatlah padaNya sedekat-dekatnya. lalu hatimu kan tenang kelak dan akhirnya berkata, “i’ve done my best. and Allah knows what i’ve done. Allah akan kasih yang terbaik…”
laa tayasuu mirrawhillaah.. jangan putus asa, ridha Allah yang kau cari han harusnya! hap hap!
kenapa islam harus dipisah pisahkan dari sekolah? dari lembaga pemerintah?
bukankah islam (dengan al-quran) adalah pedoman paling sempurna untuk kehidupan?
*garuk garuk kepala lihat tokoh tokoh islam liberal*
(hati-hati, mereka halus banget masuk ke kehidupan kita)
1. Agar menghargai Waktu dan Kerja Keras
Time is money. Mungkin kalau kita sebagai pegawai, akan sulit untuk benar-benar mengerti peribahasa tersebut. Masuk atau cuti, mengajar atau tidak minggu ini, insyaallah masih menerima gaji bulanan. Iya kan?
Tidak begitu dengan para wirausahawan. Nggak kerja pada waktu tertentu, ya nggak ada uang masuk. Kerjanya lembek, ya pemasukan sedikit. Time is money betul. :D
2. Agar mengerti apa itu resiko
Dengan menjadi pegawai, satu-satunya resiko yang kita kenal adalah dipecat. Menjadi usahawan, selamat berkenalan dengan banyak resiko. Insyaallah menjadi pelajaran yang mendewasakan (sebagai wujud pengaplikasian matakuliah manajemen resiko, buat yang mengambilnya. hehe).
3. Agar berjiwa merdeka
Merdeka ! kalau lagi pengen kerja, ya kerja. Kalau lagi pengen melakukan hal lain, ya OK OK aja. Nggak akan ada yang memarahi. Nggak ada atasan yang ngomel-ngomel. Soal relasi dan pelanggan. Lain lagi masalahnya.
4. Agar menghargai silaturahim
Every business is service business, kata Hermawan Kartajaya. Apapun bidang yang ditekuni seorang usahawan, pada hakikatnya ia memberikan pelayanan kepada costumer maupun partner kerjanya. Akan sangat terasa di sini, silaturahim menambah rizqi.
5. Agar berwawasan luas
Wisdom
Knowledge
Data
Informasi
Noise
Ini tingkatan wawasan seorang usahawan. Seorang enterpreneur tidak boleh hanya sampai di tingkat data saja. Dia harus sudah sampai di tingkat wisdom.
6. Agar cerdas mengelola anggaranUntuk orang biasa, meski jatuh tempo suatu utang masih lama, begitu ada uang pasti terpikir untuk segera membayar. Pasalnya, khawatir akan segera terpakai untuk yang lain. Tetapi tidak begitu untuk otak usahawan. Waktu seminggupun, modal itu masih bisa diputarkan untuk menjadi laba yang lebih banyak lagi.
7. Agar bisa belajar kepemimpinan
Dalam memimpin sebuah komunitas bisnis, selalu ada yang harus ditarik dan diulur. Dalam bahasa kita pemimpin harusnya ahlul halli wa ‘aqdi. Ahli dalam mengendorkan dan mengencangkan. Itu tidak mudah. Tetapi kuncinya, bahwa kita memimpin manusia, dan manusia tak hanya memerlukan financial benefit, tapi juga emotional benefit.
8. Agar merasakan indahnya shadaqahKita bisa main hitung-hitungan untuk bershadaqah jika gaji kita tetap. Untuk kebutuhan dapur segini, untuk bayar listrik segini, telpon segini, air segini, bayar sekolah anak-anak segini, untuk ditabung segini, nah baru sisanya shadaqah segini. Tetapi usahawan tidak bisa begitu, memprediksi sih mungkin saja, but exactly, nggak bisa.
Maka di situlah indahnya shadaqah. Ada shadaqah di saat lapang, ada shadaqah di saat sempit. Seperti para pedagang pasar Beringharjo yang unik. Kalo pas dagangan laris, mereka bershadaqah untuk bersyukur. Dan syukur adalah baik, kata mereka, biar nikmatnya ditambah sama Allah. Kalau pas sepi, shadaqah ditambahi. Untuk menjemput temannya yang masih di awang-awang katanya. Maka jadilah infaq di Masjid Muttaqien pasar ini termasuk yang terbesar di Jogja, dan BMT Bina Dhu’afa di tempat tersebut, termasuk yang terbesar di Jogja.
9. Agar lebih peka untuk bersyukur dan bersabar
Gaji tetap, sekali lagi, kadang membuat kita berada di wilayah abu-abu. Tidak ada surprise yang mengajarkan kita bersyukur. Tidak ada kejutan yang membuat kita tiba-tiba menyungkur sujud. Dari kemarin-kemarin juga tahu, gajinya segini. Dan itu artinya, tidak ada saat-saat ekstrim. Ekstrim mudah yang memancing syukur, dan ekstrim sulit yang mengajarkan sabar. Tidak ada. Hidup biasa-biasa saja.
Berbeda dengan wirausahawan, dinamisnya iklim usaha akan mendatangkan kesempatan-kesempatan besar untuk bersabar dan bersyukur.
10. Agar merasakan nikmatnya memberi kemanfaatan bagi banyak orang
Manusia terbaik adalah yang paling banyak kemanfaatannya bagi manusia lain. Menjadi usahawan harus diniatkan menjadi bagian dari hal ini. Kepada karyawan, kepada keluarga mereka, kepada konsumen, kepada partner bisnis. Sudahkan mereka merasakan kemanfaatan optimal kita?Nah lho, ga kebayang kan manfaat menjadi seorang usahawan. Buat yang memiliki dana lebih, mungkin bisa menjadi Investor. Kenapa Investor? Karena investor itu membahagiakan banyak orang dan membahagiakan diri sendiri tentunya. Pembelajarannya tak kalah banyak dengan bisnis, tetapi mungkin dalam bentuk yang berbeda. Jadi, daripada ditabung, modali orang lain yang amanah agar punya usaha. Bukankah menjadi kebaikan yang berlimpah?
Dikutip dari “standar hidup seorang mukmin”, Salim A. Fillah. Dengan beberapa editan.
wohooooww!!
i believe that when i do good things to others, i’ll get the same. it’s sunatullah. it applies for all Allah’s creature, for the mukmin, or just muslim, and even for the kafir one.
since knowing that law, i always try to treat others around me well, by hoping that they’ll treat me as well as i did.
but then i just feel that they quite often abuse my intention. i mean, sometimes they over-simplify me. sometimes they do canceling the appointment, without any infos. sometimes they do bullying to me by saying painful words, in “humor tone”, when problems fill up my mind, then it becomes not funny at all!
i always try evaluating myself by asking, “is this my fault? did i do the same to them?”. then i try to never complain them, because yeah maybe i did the same, but didn’t realize.
i just can ask Allah, “why it seems not fair, when i do good things to others, hoping others will treat me well, but at the end i rarely get the same?”
maybe it’s me that having the expectation too high from them.. yeah and this is the result. feeling unsatisfied.
but i think, there wont be useless at all by trying to treat them well, cause Allah knows.
no one can abuse me! cause Allah will treat me well.. actually even when i do bad, good things always come to me. that’s very kind of Allah, rite?
but also not fair when i get good things from Allah, i don’t do any good. (just like i felt :p) so, in order to make it fair, ya just do any good things for Allah. i mean, to search Allah’s ridha.
because Allah is The Best Giver, The Most Fair in giving something based on what you do..
#immuslimandimlearning
| — | Ibnul Qayyim dalam Za’adul Ma’ad, 4/246 (via chynatic) |




